Senin, 19 Maret 2018
Intrapreneur vs Entrepreneur
Malam semuanya! Hari ini ketika saya mengajar di kelas terjadi diskusi yang cukup menarik dengan salah seorang mahasiswa saya. Ketika kami membahas tentang 4 faktor utama dalam perekonomian, dimana faktor terakhirnya adalah entrepreneurship. Tiba-tiba salah satu dari mahasiswa saya bertanya, apa beda antara intrapreneur dengan entrepreneur. Saya menjawab pertanyaannya dan karena saya anggap topik ini cutup menarik, maka saya tuliskan kembali tentang hal ini di blog.
Apa beda intrapreneur dengan entrepreneur?
Baik intrapreneur maupun entrepreneur sebetulnya adalah kemampuan seseorang di dalam menjalankan roda sebuah organisasi (organisasi di sini tidak harus dalam bentuk perusahaan, meskipun seringkali dikaitkan dengan hal itu).
Intrapreneur dan entrepreneur, keduanya memiliki kemampuan untuk mendesign, mencipta, menjalankan dan mengevaluasi suatu hal baru yang berasal dari buah pikirannya sendiri.
Bedanya adalah intrapreneur melakukan hal-hal tersebut diatas ketika dia bergabung, atau bila dalam perusahaan istilahnya dipekerjakan jadi statusnya adalah sebagai seorang karyawan di tempat itu. Sedangkan entrepreneur, membangun sendiri organisasi atau perusahaanya dari nol. Dari perbedaan pola kerja ini, kita dapat melihat beberapa hal yang berbeda dari seorang intrapreneur dengan entrepreneur.
Bila dilihat dari independensi nya, maka seorang intrapreneur memiliki keterikatan dengan organisasi atau perusahaan di tempat dia berada. Karena sebagai seorang karyawan maka seorang intrapreneur akan tergantung pada aturan dan system di tempat dirinya berkarya. Sedangkan entrepreneur, tidak terikat pada aturan atau system yang dibuat oleh orang lain, karena sebagai pemilik organisasi atau perusahaan maka dia sendiri yang menciptakan aturan dan system.
Bila ditinjau dari skala organisasi, seorang intrapreneur biasanya bekerja di sebuah organisasi atau perusahaan yang berskala besar dan memiliki ruang lingkup pekerjaan yang luas. Sedangkan entrepreneur karena memulai dari nol, maka pada mulanya entrepreneur akan memulai perusahaannya dari organisasi berskala kecil dan fokus pada satu bidang usaha saja. Usaha rintisan ini sering juga dinamakan sebagai startup.
Sumber daya yang dipergunakan juga berbeda, intrapreneur karena berada pada suatu organisasi atau perusahaan yang berskala besar maka sumber daya yang bisa dia gunakan juga akan lebih banyak dan risiko yang harus ditanggungnya juga tidak besar karena mempergunakan sumber dari pihak lain. Sedang entrepreneur, karena memulai dari apa yang ada pada dirinya maka sumber dana yang dipakai untuk tahap awal juga relatif kecil, tetapi dengan risiko yang cukup besar karena sumber yang digunakan adalah miliknya sendiri. Berarti kalau sampai gagal akan berdampak langsung pada dirinya, hal ini tidak terjadi pada seorang intrapreneur.
Karena sumber dayanya besar maka cakupan berpikir seorang intrapreneur akan berwawasan lebih luas, dan dia tidak perlu terlibat untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya lebih kecil dan mendetail, karena untuk hal itu akan ada orang lain yang melakukannya. Tetapi seorang entrepreneur, karena memulai sendiri dari nol, maka dia harus bisa melakukan banyak hal seorang diri saja. Seorang entrepreneur harus memahami apa yang dilakukannya secara mendetail kalau mau berhasil. Untuk tahap awal pasti dia tidak akan mendelegasikan hal itu pada orang lain, karena akan menambah biaya operasional.
Tetapi dalam segi waktu, sudah tentu entrepreneur akan lebih leluasa mengaturnya karena segala sesuatu tergantung pada dirinya sendiri. Ini yang tidak dimiliki oleh seorang intrapreneur, karena sebagai seorang yang dipekerjakan maka waktu nya juga akan terikat dengan waktu perusahaan tempat dia bekerja.
Persamaanya adalah baik entrepreneur dan entrepreneur harus memiliki kepemimpinan dan daya juang yang tinggi. Keduanya memiliki ambisi yang besar untuk menciptakan sesuatu yang baru atau membuat suatu perubahan di lingkungannya.
Nah itulah sekelumit tentang intrapreneur vs entrepreneur. Semoga penjelasan singkat saya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian. (IHW)
Jumat, 16 Februari 2018
Penyewaan Sepeda
(sumber: youtube)
Waktu saya ke eropa di tahun 2017 yang lalu, saya sempat terkesan dengan kehidupan masyarakat di sana. Banyak orang yang pergi kerja dengan menggunakan sepeda (baik sepeda sendiri maupun sepeda sewaan), kebiasaan ini kelihatannya dapat mengurangi kemacetan di jalan raya, dan memang kelihatannya banyak pemerintah di eropa support transport alternative selain untuk mengurangi kemacetan juga untuk mengurangi pemborosan penggunaan bahan bakar yang tidak perlu.
Saya pikir penggunaan sepeda dapat juga digalakkan di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dsb. Selain dapat mengurangi kemacetan di jalan raya, mengurangi polusi udara akibat buangan gas dari kendaraan bermotor, dan mengurangi penggunaan BBM yang berlebih, alternative transportasi seperti sepeda juga dapat meningkatkan kesehatan pengendaranya.
Dengan pikiran superit itu, saya coba mereka-reka besaran dana yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha sewa sepeda. Yuk, kita mulai saja analisa usaha sewa sepeda (angka-angka yang digunakan hanyalah angka kasar jadi harus disesuaikan lagi bila ingin diterapkan)
Misalkan saja, kita mau membeli sekitar 20 sepeda untuk disewakan. Untuk menekan biaya dipilih sepeda bekas yang harganya sekitar Rp 700,000. (karena kebanyakan pembaca blog saya masih berstatus mahasiswa dan sisa)
Modal pembelian sepeda bekas = 20 x Rp 700,000 = Rp 14,000,000
Modal fasilitas penunjung (sewa tempat, perkakas kantor, pompa ban, dsb) = Rp 5,000,000
Karena pelaku usaha adalah mahasiswa jadi disarankan untuk mengoperasikan sendiri usaha itu (bisa menggunakan system shift dengan teman anda yang terlibat dalam bisnis ini) jadi tidak perlu hire karyawan lagi.
Jadi total dana yang anda butuhkan adalah Rp 14,000,000 + Rp 5,000,000 = Rp 19,000,000
Biasanya digunakan system sewa per satu jam. Misalkan saja anda kenakan biaya sewa/jam = Rp 20,000/sepeda. Bila dalam 1 hari ada 20 orang yang sewa maka pendapatan anda per hari adalah
Rp 20,000 x 20 = Rp 400,000 per hari.
Bila usaha anda buka 5 hari/minggu berarti dalam 1 minggu anda akan mendapatkan penghasilan sebeesar = 5 x Rp 400,000 = Rp 2,000,000 per minggu
Dalam 1 bulan penghasilannya adalah = Rp 2,000,000 x 4 = Rp 8,000,000 per bulan
Berapa lama untuk menghasilkan break even = Rp 19,000,000/Rp 8,000,000 sekitar 2,5 bulanan saja.
Lumayan kan usaha penyewaan sepeda ini? Silahkan mencoba sendiri para mahasiswa ku.
Sudah tentu rekaan saya untuk tulisan ini adalah rekaan untuk usaha sewa sepeda konvensional, bukan untuk membuat sharing cycle seperti di video clip youtube yang saya pasang di bagian atas tulisan saya ini. Video itu sebagai inspirasi ke depannya. (IHW)
Senin, 12 Februari 2018
Cara mudah menulis buku
Rekan-rekan mahasiswa bila ada yang berbakat dalam hal tulis menulis termasuk menulis buku, sekarang ada cara mudah untuk menyalurkan bakat plus mendapatkan income dari kegiatan itu.
Bagaimana caranya?
Pertama, silahkan kalian registrasi dulu ke situs NulisBuku, gratis dan cepat prosesnya.
Kedua, setelah berhasil dalam registrasi maka langkah selanjutnya adalah download template dari situs NulisBuku tersebut. Ada 2 jenis template yang tersedia untuk di download yaitu template naskah (menggunakan format Microsoft Word) dan template cover buku (dengan format JPEG)
Ketiga, setelah anda download ke 2 template tersebut. Langkah berikutnya adalah copy paste naskah anda ke template naskah yang berbasis Microsoft Word itu. Jangan lupa untuk merapikan halaman supaya hasil cetaknya baik.
Keempat, langkah berikut adalah upload naskah anda yang sudah dimasukkan dalam template naskah. Jangan lupa lengkapi beberapa kolom dalam formulir yang tersedia. Terkadang proses upload butuh waktu yang agak lama (tergantung besar dan kecilnya file yang anda upload) hingga dimohon kesabaran anda dalam menunggu. Setelah proses upload berhasil maka akan ada tulisan "upload success".
Kelima, Profread - contoh cetakan pertama dari buku anda akan dikirim untuk diperiksa oleh anda sendiri untuk mengetahui apakah kondisi buku yang dicetak sudah sesuai dengan keinginan anda sebagai penulisnya
Keenam, disebut proses Go Live. Setelah tidak ada revisi lagi dari anda sebagai penulis, maka pihak Nulis Buku akan memoderasi dan mengubah status buku anda menjadi "Live". Ini berarti buku anda sudah berada di display toko buku online NulisBuku.
Ketujuh, sekarang saat nya untuk mempromosikan buku anda melalui berbagai media sosial yang ada seperti Facebook, Twitter, Google, Instagram, dsb
Selamat menulis buku! (IHW)
Bagaimana caranya?
Pertama, silahkan kalian registrasi dulu ke situs NulisBuku, gratis dan cepat prosesnya.
Kedua, setelah berhasil dalam registrasi maka langkah selanjutnya adalah download template dari situs NulisBuku tersebut. Ada 2 jenis template yang tersedia untuk di download yaitu template naskah (menggunakan format Microsoft Word) dan template cover buku (dengan format JPEG)
Ketiga, setelah anda download ke 2 template tersebut. Langkah berikutnya adalah copy paste naskah anda ke template naskah yang berbasis Microsoft Word itu. Jangan lupa untuk merapikan halaman supaya hasil cetaknya baik.
Keempat, langkah berikut adalah upload naskah anda yang sudah dimasukkan dalam template naskah. Jangan lupa lengkapi beberapa kolom dalam formulir yang tersedia. Terkadang proses upload butuh waktu yang agak lama (tergantung besar dan kecilnya file yang anda upload) hingga dimohon kesabaran anda dalam menunggu. Setelah proses upload berhasil maka akan ada tulisan "upload success".
Kelima, Profread - contoh cetakan pertama dari buku anda akan dikirim untuk diperiksa oleh anda sendiri untuk mengetahui apakah kondisi buku yang dicetak sudah sesuai dengan keinginan anda sebagai penulisnya
Keenam, disebut proses Go Live. Setelah tidak ada revisi lagi dari anda sebagai penulis, maka pihak Nulis Buku akan memoderasi dan mengubah status buku anda menjadi "Live". Ini berarti buku anda sudah berada di display toko buku online NulisBuku.
Ketujuh, sekarang saat nya untuk mempromosikan buku anda melalui berbagai media sosial yang ada seperti Facebook, Twitter, Google, Instagram, dsb
Selamat menulis buku! (IHW)
Senin, 05 Februari 2018
Penyewaan Drone
Kemarin saya diundang oleh Himpunan Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Depok untuk berkunjung di bazar yang mereka adakan di sana. Satu hal yang menarik bagi saya selama bazar saya melihat ada drone yang berkeliling di udara untuk meliput kejadian di lapangan selama bazar berlangsung. Ketika saya lihat pilot nya adalah seorang mahasiswa, selidik punya selidik ternyata dia adalah pilot sekaligus pemilik drone itu. Rupanya mahasiswa yang cerdik ini menyewakan drone miliknya untuk meliput acara bazar tersebut.
Saya tertarik karena ini bukan pertama kali saya melihat mahasiswa yang menyewakan drone nya untuk meliput acara dari udara baik untuk pengambilan foto udara maupun peliputan video dari udara.
Saya berpikir rental drone adalah usaha yang baik untuk mahasiswa karena kampus biasanya punya banyak acara yang harus diliput dengan drone, apalagi kalau acaranya diadakan di lapangan yang luas seperti di kampus Depok ini.
Corat-coret akhirnya saya punya analisa kasar untuk bisnis rental drone ini
Pertama kalian harus memilih drone nya dulu dong, pilih yang sesuai dengan budget kalian. Jenis-jenis drone beserta harganya yang saya rasa cocok untuk mahasiswa yang masih belajar bisa dilihat di
Saveseva fotografi.
Misalnya saja kalian pilih jenis Walkera QR X350 PRO yang saya pikir cukup baik untuk dipakai meliput foto atau video lapangan. Harganya tidak terlalu mahal sekitar Rp 7.000.000,-
Modal awal (asumsi untuk pembelian drone + perlengkapan) = Rp 7.000.000 + Rp 3.000.000 = Rp 10.000.000
Harga sewa per hari = Rp 2.000.000 (termasuk pilot)
Diasumsikan penyewaan drone hanya dilakukan di weekend (pada saat tidak ada kuliah), jadi dalam 1 bulan ada 4x penyewaan
Perhitungan keuntungan penyewaan
Pendapatan per sewa = Rp 2.000.000 - gaji pilot Rp 1.000.000 (karena dipiloti sendiri)=Rp 1.000.000 dalam 1x penyewaan
Kalau dalam 1 bulan ada 4x penyewaan = Rp 1.000.000 x 4 = Rp 4.000.000.
Break even = Rp 7.000.000 : Rp 4.000.000 = 1,75 bulan (tidak sampai 2 bulan)
Dalam 1 tahun = Rp 4.000.000 x 12 = Rp 48.000.000
Dalam 1 tahun usaha rental drone kalian sudah bisa tambah armada drone kalian menjadi 4-5 drone. Menarik bukan usaha ini? Silahkan mencoba sendiri (IHW)
Sabtu, 03 Februari 2018
Usaha Thai Tea untuk mahasiswa
Sudah lama saya menyukai Thai Tea karena rasanya yang khas apalagi bila diminum dalam kondisi dingin. Beruntung di kampus tempat saya mengajar ada booth yang khusus menjual Thai Tea, saya perhatikan banyak pelanggan yang berdatangan untuk membeli Thai Tea mereka. Pembeli setia mereka ada dosen (termasuk saya), mahasiswa, maupun karyawan universitas.
Thai Tea yang dijual ada 3 macam yaitu Thai Milk Tea, Thai Green Tea Milk dan Thai Taro Milk. Taro memiliki rasa seperti ubi talas yang ditambahi milk. Adapun variasi rasa Thai Tea yang disediakan cukup banyak, kalau tidak salah ada sekitar 10 varian, ada yang dingin dan ada yang panas. Biasanya varian itu berasal dari rasa buah yang dicampurkan ke dalam Thai Tea.
Saya tanya kepada seorang kawan yang suka membuat Thai Tea sendiri, katanya rasa yang berbeda-beda dan khas dari Thai Tea dikarenakan tingkat campuran creamy nya. Tetapi katanya yang paling pending adalah teh yang digunakan haruslah teh yang berasal dari Thailand. Karena rasa teh Thailand khas dan berbeda dengan teh yang biasa didapat di Indonesia.
(sumber: youtube)
Karena saya sering berkunjung ke booth itu untuk membeli Thai Tea, timbul ide saya untuk mengkalkulasi berapa sih kira-kira keuntungan yang bisa mereka peroleh per bulannya melalui berjualan Thai Tea di kampus.
Dari pengamatan saya di lapangan, bisa diperkirakan pricing dari Thai Tea tersebut dapat di simulasikan sebagai berikut
Modal bahan baku untuk membuat Thai Tea Milk = Rp 2.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Modal peralatan untuk berjualan Thai Tea Milk = Rp 3.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Total Modal = Rp 2.000.000,- + Rp 3.000.000,- = Rp 5.000.000,-
Keuntungan dari berjualan Thai Tea
Saya assumsi kan saja mereka menjual dengan harga Rp 10.000,- per hari nya (bukan dengan harga jual sebenarnya), dan dalam sehari di assumsikan terjual Thai Tea sebanyak 50 gelas (mengingat banyak rekan dosen dan mahasiswa yang beli di tempat itu)
Maka kalkulasi laba kotor per bulan adalah
Laba kotor per hari = 50 gelas x Rp 10.000,- = Rp 500.000,-
Laba kotor per bulan (30 hari) = Rp 500.000,- x 30 hari = Rp 15.000.000,-
Pengeluaran bulanan (dengan pendekatan assumsi bukan yang sebenarnya)
Total pengeluaran bulanan = +/- Rp 6.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Laba bersih bulanan = Laba kotor per bulan - (Modal bahan baku + Total pengeluaran per bulan)
Rp 15.000.000,- - (Rp 2,000,000 + Rp 6.000.000,-)
Rp 7.000.000
Bila dicari break-even nya maka
(Modal peralatan : Laba bersih bulanan) = Rp 3.000.000,-/Rp 7.000.000,- = 0.4 bulan
Cukup memikat bukan bisnis ini untuk mahasiswa yang berjiwa entrepreneur. Mungkin kalian bisa berkongsian untuk mengumpulkan dana nya setelah itu bisa hire orang untuk menjaga booth kalian. Jadi tidak mengganggu kuliah, tetapi uang saku per bulan bisa ditambahkan dari hasil bisnis kongsian ini. Selamat mencoba! (IHW)
Thai Tea yang dijual ada 3 macam yaitu Thai Milk Tea, Thai Green Tea Milk dan Thai Taro Milk. Taro memiliki rasa seperti ubi talas yang ditambahi milk. Adapun variasi rasa Thai Tea yang disediakan cukup banyak, kalau tidak salah ada sekitar 10 varian, ada yang dingin dan ada yang panas. Biasanya varian itu berasal dari rasa buah yang dicampurkan ke dalam Thai Tea.
Saya tanya kepada seorang kawan yang suka membuat Thai Tea sendiri, katanya rasa yang berbeda-beda dan khas dari Thai Tea dikarenakan tingkat campuran creamy nya. Tetapi katanya yang paling pending adalah teh yang digunakan haruslah teh yang berasal dari Thailand. Karena rasa teh Thailand khas dan berbeda dengan teh yang biasa didapat di Indonesia.
(sumber: youtube)
Karena saya sering berkunjung ke booth itu untuk membeli Thai Tea, timbul ide saya untuk mengkalkulasi berapa sih kira-kira keuntungan yang bisa mereka peroleh per bulannya melalui berjualan Thai Tea di kampus.
Dari pengamatan saya di lapangan, bisa diperkirakan pricing dari Thai Tea tersebut dapat di simulasikan sebagai berikut
Modal bahan baku untuk membuat Thai Tea Milk = Rp 2.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Modal peralatan untuk berjualan Thai Tea Milk = Rp 3.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Total Modal = Rp 2.000.000,- + Rp 3.000.000,- = Rp 5.000.000,-
Keuntungan dari berjualan Thai Tea
Saya assumsi kan saja mereka menjual dengan harga Rp 10.000,- per hari nya (bukan dengan harga jual sebenarnya), dan dalam sehari di assumsikan terjual Thai Tea sebanyak 50 gelas (mengingat banyak rekan dosen dan mahasiswa yang beli di tempat itu)
Maka kalkulasi laba kotor per bulan adalah
Laba kotor per hari = 50 gelas x Rp 10.000,- = Rp 500.000,-
Laba kotor per bulan (30 hari) = Rp 500.000,- x 30 hari = Rp 15.000.000,-
Pengeluaran bulanan (dengan pendekatan assumsi bukan yang sebenarnya)
Total pengeluaran bulanan = +/- Rp 6.000.000,-
(item sengaja saya tidak masukkan)
Laba bersih bulanan = Laba kotor per bulan - (Modal bahan baku + Total pengeluaran per bulan)
Rp 15.000.000,- - (Rp 2,000,000 + Rp 6.000.000,-)
Rp 7.000.000
Bila dicari break-even nya maka
(Modal peralatan : Laba bersih bulanan) = Rp 3.000.000,-/Rp 7.000.000,- = 0.4 bulan
Cukup memikat bukan bisnis ini untuk mahasiswa yang berjiwa entrepreneur. Mungkin kalian bisa berkongsian untuk mengumpulkan dana nya setelah itu bisa hire orang untuk menjaga booth kalian. Jadi tidak mengganggu kuliah, tetapi uang saku per bulan bisa ditambahkan dari hasil bisnis kongsian ini. Selamat mencoba! (IHW)
Minggu, 28 Januari 2018
Rumah Kopi Sibu-sibu
Hi .... semua! Kalian kan tanya oleh-oleh apa dari Ambon, nih saya bagi cerita khusus untuk mahasiswa-mahasiswa ku tentang salah satu profil rumah kopi langganan saya di Ambon yang ngetop.
Rumah Kopi, apa sih itu? Rumah kopi itu bahasa Ambon nya untuk Coffe Shop, jadi kalau di Ambon kalian mau ngopi bareng teman-teman carinya jangan Coffe Shop tapi carilah Rumah Kopi. Rumah kopi sudah sejak lama menjamur di Ambon bahkan sudah menjadi ciri khas kota Ambon. Rumah Kopi sepengetahuan saya hampir semuanya dikelola oleh pengusaha lokal, karena merupakan produk lokal maka suasananya maupun jenis hidangannya agak sedikit beda dengan Coffe Shop yang biasa kita jumpai di Jakarta. Tetapi walaupun merupakan produk lokal, hidangannya maupun rasa kopi nya gak kalah kok dengan yang produk dari luar.
Untuk kali ini, saya akan membahas satu Rumah Kopi yang menjadi favorite saya dan keluarga kalau sedang di Ambon. Namanya Rumah Kopi "Sibu-Sibu" yang terletak di tengah2x kota Ambon.
Kalian pasti bertanya kenapa saya suka ke tempat itu? Jawabanya sederhana, kopi dan coklat nya siiip banget, pisang goreng nya juga jempolan, tapi bukan itu saja banyak hidangan favourite lainnya yang bisa kalian jumpai di situ. Harganya pun relatif murah untuk ukuran mahasiswa yang sedang traveling ke daerah.
Selain hidangannya apa yang jadi alasan kenapa Rumah Kopi yang satu ini laku berat di mata anak muda? Suasana itu jawabannya, suasana yang santai dan nyaman membuat Rumah Kopi itu menjadi tempat nongkrong nya anak muda kelas menengah di Ambon (umumnya mahasiswa atau profesional muda)
Didinding nya terpajang foto2x orang Ambon yang berprestasi bukan saja lokal tapi rupanya banyak juga orang Ambon yang berprestasi international spt pemusik, pemain sepak bola, penari, pemain film, penyanyi, dsb.
Dan ketika saya tanya, orang-orang Ambon yang foto nya dipasang di dinding itu, rata2x mereka kalau ke Ambon pasti menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Kopi tersebut. Hal itu membuat para pemuda Ambon yang ingin bertemu dengan para senior idola nya dapat menjumpai mereka di tempat itu. Itu mungkin alasan lain kenapa banyak anak muda yang suka nongkrong di sana.
Live music nya pun bagus, bagi yang senang nongkrong dengan geng nya sambil dengerin musik atau dansa bisa datang ke Rumah Kopi Sibu-Sibu. Pertunjukan musik di tempat itu kalau tidak salah dimulai dari sore hari sampai sekitar pukul 21:00 waktu di Ambon.
Bagi yang belum pernah mencoba, silahkan datang deh ke Ambon. (IHW)
Rumah Kopi, apa sih itu? Rumah kopi itu bahasa Ambon nya untuk Coffe Shop, jadi kalau di Ambon kalian mau ngopi bareng teman-teman carinya jangan Coffe Shop tapi carilah Rumah Kopi. Rumah kopi sudah sejak lama menjamur di Ambon bahkan sudah menjadi ciri khas kota Ambon. Rumah Kopi sepengetahuan saya hampir semuanya dikelola oleh pengusaha lokal, karena merupakan produk lokal maka suasananya maupun jenis hidangannya agak sedikit beda dengan Coffe Shop yang biasa kita jumpai di Jakarta. Tetapi walaupun merupakan produk lokal, hidangannya maupun rasa kopi nya gak kalah kok dengan yang produk dari luar.
Untuk kali ini, saya akan membahas satu Rumah Kopi yang menjadi favorite saya dan keluarga kalau sedang di Ambon. Namanya Rumah Kopi "Sibu-Sibu" yang terletak di tengah2x kota Ambon.
Kalian pasti bertanya kenapa saya suka ke tempat itu? Jawabanya sederhana, kopi dan coklat nya siiip banget, pisang goreng nya juga jempolan, tapi bukan itu saja banyak hidangan favourite lainnya yang bisa kalian jumpai di situ. Harganya pun relatif murah untuk ukuran mahasiswa yang sedang traveling ke daerah.
Selain hidangannya apa yang jadi alasan kenapa Rumah Kopi yang satu ini laku berat di mata anak muda? Suasana itu jawabannya, suasana yang santai dan nyaman membuat Rumah Kopi itu menjadi tempat nongkrong nya anak muda kelas menengah di Ambon (umumnya mahasiswa atau profesional muda)
Didinding nya terpajang foto2x orang Ambon yang berprestasi bukan saja lokal tapi rupanya banyak juga orang Ambon yang berprestasi international spt pemusik, pemain sepak bola, penari, pemain film, penyanyi, dsb.
Dan ketika saya tanya, orang-orang Ambon yang foto nya dipasang di dinding itu, rata2x mereka kalau ke Ambon pasti menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Kopi tersebut. Hal itu membuat para pemuda Ambon yang ingin bertemu dengan para senior idola nya dapat menjumpai mereka di tempat itu. Itu mungkin alasan lain kenapa banyak anak muda yang suka nongkrong di sana.
Live music nya pun bagus, bagi yang senang nongkrong dengan geng nya sambil dengerin musik atau dansa bisa datang ke Rumah Kopi Sibu-Sibu. Pertunjukan musik di tempat itu kalau tidak salah dimulai dari sore hari sampai sekitar pukul 21:00 waktu di Ambon.
Bagi yang belum pernah mencoba, silahkan datang deh ke Ambon. (IHW)
Kamis, 25 Januari 2018
Apa sih bedanya affiliate, dropship dan reseller?
Bagi mahasiswa yang senang kutak-kutik internet dan punya jiwa entrepreneur, tapi belum pernah mencoba terjun ke dunia usaha dan tidak punya banyak modal maka bisnis online adalah salah satu alternative untuk memulai bisnis anda.
Biasanya banyak mahasiswa yang bertanya kepada saya system bisnis online apa yang paling cocok untuk pemula.
Sebagai pemula biasanya saya sarankan untuk memilih system bisnis seperti affiliate program, drop shipper atau reseller.
Lalu apa bedanya antara affiliate, dropship dan reseller?
Affiliate adalah salah satu system bisnis online yang paling simple bagi pemula. Karena melalui program affiliate ini maka seorang affiliate hanya bertugas untuk mempromosikan produk milik orang lain melalui blog, website atau social media.
Orang yang bertugas untuk mempromosikan produk melalui system affiliate ini disebut sebagi Affiliate Markerter. Untuk setiap penjualan yang dihasilkan, maka seorang affiliate marketer akan menerima komisi sesuai yang dijanjikan oleh pihak yang produknya di promosikan oleh si affiliate marketer tersebut. Keuntungan dari mengikuti program affiliasi ini, sama sekali tidak dibutuhkan dana dan memiliki daya jangkau yang sangat luas bahkan bisa sampai global, tergantung dari senis dan brand yang anda tawarkan melalui internet.
Dropship termasuk salah satu system bisnis online yang simple meskipun sedikit lebih menyita waktu dan perhatian dibanding system Affiliate. Bagi yang sudah terbiasa dengan system affiliate dan mau meningkatkan kemampuannya bisa mencoba dengan system dropship ini.
Orang yang melakukan transaksi dengan menggunakan system dropship ini dinamakan sebagai drop shipper. Cara kerjanya cukup sederhana, seorang dropshipper cukup memasang produk yang akan dijualnya di internet, bisa di blog, website ataupun social media. Kalau ada calon pembeli yang berminat, mereka akan menghubungi anda secara langsung. Tugas seorang dropshipper selanjutnya adalah menerima pembayaran dari pembeli dan mentransfer pembayaran klien anda ke toko pusat yang memberi hak sebagai dropship, selanjutnya packaging dan delivery barang adalah tugas mereka, anda tidak usah pusing dengan urusan seperti itu. Barang akan dikirim ke klien anda dengan memakai nama dan alamat anda sendiri. Jadi anda sudah seperti mempunyai bisnis sendiri. Inilah kelebihan dropshipper daripada affliasi. Tetapi kalau ada klaim tentunya akan jatuh ke tangan anda dulu tentunya.
Reseller adalah tingkat yang paling advance disbanding 2 yang terdahulu. Untuk menjadi seorang reseller anda harus memiliki stok barang sendiri, jadi anda harus punya modal terlebih dahulu. Jadi cara kerjanya sama saja dengan toko konvensional, hanya dalam cara pemasarannya anda menggunakan media internet. Keuntungan anda pasti akan lebih besar dari system affiliate maupun dropship, tetapi kerumitan kerja anda juga akan semakin meningkat. Wajar toh kalau ingin untuk lebih besar ya harus kerja lebih banyak
Sekian dulu ulasan saya hari ini tentang bisnis online, semoga berguna bagi mahasiswa saya yang membacanya. Nanti kita teruskan lagi topik yang menarik ini. (IHW)
Biasanya banyak mahasiswa yang bertanya kepada saya system bisnis online apa yang paling cocok untuk pemula.
Sebagai pemula biasanya saya sarankan untuk memilih system bisnis seperti affiliate program, drop shipper atau reseller.
Lalu apa bedanya antara affiliate, dropship dan reseller?
Affiliate adalah salah satu system bisnis online yang paling simple bagi pemula. Karena melalui program affiliate ini maka seorang affiliate hanya bertugas untuk mempromosikan produk milik orang lain melalui blog, website atau social media.
Orang yang bertugas untuk mempromosikan produk melalui system affiliate ini disebut sebagi Affiliate Markerter. Untuk setiap penjualan yang dihasilkan, maka seorang affiliate marketer akan menerima komisi sesuai yang dijanjikan oleh pihak yang produknya di promosikan oleh si affiliate marketer tersebut. Keuntungan dari mengikuti program affiliasi ini, sama sekali tidak dibutuhkan dana dan memiliki daya jangkau yang sangat luas bahkan bisa sampai global, tergantung dari senis dan brand yang anda tawarkan melalui internet.
Dropship termasuk salah satu system bisnis online yang simple meskipun sedikit lebih menyita waktu dan perhatian dibanding system Affiliate. Bagi yang sudah terbiasa dengan system affiliate dan mau meningkatkan kemampuannya bisa mencoba dengan system dropship ini.
Orang yang melakukan transaksi dengan menggunakan system dropship ini dinamakan sebagai drop shipper. Cara kerjanya cukup sederhana, seorang dropshipper cukup memasang produk yang akan dijualnya di internet, bisa di blog, website ataupun social media. Kalau ada calon pembeli yang berminat, mereka akan menghubungi anda secara langsung. Tugas seorang dropshipper selanjutnya adalah menerima pembayaran dari pembeli dan mentransfer pembayaran klien anda ke toko pusat yang memberi hak sebagai dropship, selanjutnya packaging dan delivery barang adalah tugas mereka, anda tidak usah pusing dengan urusan seperti itu. Barang akan dikirim ke klien anda dengan memakai nama dan alamat anda sendiri. Jadi anda sudah seperti mempunyai bisnis sendiri. Inilah kelebihan dropshipper daripada affliasi. Tetapi kalau ada klaim tentunya akan jatuh ke tangan anda dulu tentunya.
Reseller adalah tingkat yang paling advance disbanding 2 yang terdahulu. Untuk menjadi seorang reseller anda harus memiliki stok barang sendiri, jadi anda harus punya modal terlebih dahulu. Jadi cara kerjanya sama saja dengan toko konvensional, hanya dalam cara pemasarannya anda menggunakan media internet. Keuntungan anda pasti akan lebih besar dari system affiliate maupun dropship, tetapi kerumitan kerja anda juga akan semakin meningkat. Wajar toh kalau ingin untuk lebih besar ya harus kerja lebih banyak
Sekian dulu ulasan saya hari ini tentang bisnis online, semoga berguna bagi mahasiswa saya yang membacanya. Nanti kita teruskan lagi topik yang menarik ini. (IHW)
Senin, 22 Januari 2018
5 kesalahan umum para start up
Hari ini saya di kantin kampus sempat berdiskusi dengan rekan sesama dosen yang juga memiliki usaha kecil di bidang IT, cukup menarik perbincangan kami berdua.
Topik diskusi kami berdua adalah mengenai start up, karena maraknya start up diperbincangkan belakangan ini. Masalahnya kita melihat banyak start up yang gagal dalam perkembangannya. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kami berdua (kebetulan kami juga memiliki usaha kecil yang tergolong dalam kategory start up) , setidaknya ada 5 penyebab gagalnya start up yaitu
1.Produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dimana start up itu berlokasi. Ini yang kita lihat paling sering terjadi. Mungkin karena kurangnya pengalaman dari pendiri start up yang baru pertama kali terjun dalam usaha.
2.Tidak melakukan uji produk terlebih dahulu, uji coba sangat perlu untuk dapat melihat kinerja produk secara riil bukan hanya di atas kertas saja.
3.Kebanyakan start up yang gagal terlalu fokus pada bagaimana cara menghadapi kompetitor bukan fokus pada keunggulan produknya sendiri
4.Kurangnya komunikasi, komunikasi yang baik antara pemilik dengan manajemen atau karyawan akan sangat mendukung keberhasilan start up karena komunikasi yang baik akan menuntun start up untuk dapat berespon lebih baik terhadap segala perubahan yang terjadi
5.Kurang perhatian pada karyawan. Harus diingat karyawan adalah tulang punggung semua perusahaan termasuk yang tergolong start up. Kalau karyawan termotivasi pastilah akan membawa dampak positip pada start up yang bersangkutan misalnya: ketidak hadiran dapat diminimalkan, mengurangi ongkos kerja karena kegagalan produksi, karyawan akan bekerja lebih efisien dan efektif dan akhirnya tentu saja diharapkan produk yang dihasilkan akan memiliki standard mutu yang baik.
Demikianlah hasil percakapan singkat kami tentang kesalahan2x yang umum dilakukan oleh start up, semoga tulisan ini berguna bagi para mahasiswa yang sudah atau ingin membuka usaha sendiri. Selamat berkarya! (IHW)
Topik diskusi kami berdua adalah mengenai start up, karena maraknya start up diperbincangkan belakangan ini. Masalahnya kita melihat banyak start up yang gagal dalam perkembangannya. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kami berdua (kebetulan kami juga memiliki usaha kecil yang tergolong dalam kategory start up) , setidaknya ada 5 penyebab gagalnya start up yaitu
1.Produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dimana start up itu berlokasi. Ini yang kita lihat paling sering terjadi. Mungkin karena kurangnya pengalaman dari pendiri start up yang baru pertama kali terjun dalam usaha.
2.Tidak melakukan uji produk terlebih dahulu, uji coba sangat perlu untuk dapat melihat kinerja produk secara riil bukan hanya di atas kertas saja.
3.Kebanyakan start up yang gagal terlalu fokus pada bagaimana cara menghadapi kompetitor bukan fokus pada keunggulan produknya sendiri
4.Kurangnya komunikasi, komunikasi yang baik antara pemilik dengan manajemen atau karyawan akan sangat mendukung keberhasilan start up karena komunikasi yang baik akan menuntun start up untuk dapat berespon lebih baik terhadap segala perubahan yang terjadi
5.Kurang perhatian pada karyawan. Harus diingat karyawan adalah tulang punggung semua perusahaan termasuk yang tergolong start up. Kalau karyawan termotivasi pastilah akan membawa dampak positip pada start up yang bersangkutan misalnya: ketidak hadiran dapat diminimalkan, mengurangi ongkos kerja karena kegagalan produksi, karyawan akan bekerja lebih efisien dan efektif dan akhirnya tentu saja diharapkan produk yang dihasilkan akan memiliki standard mutu yang baik.
Demikianlah hasil percakapan singkat kami tentang kesalahan2x yang umum dilakukan oleh start up, semoga tulisan ini berguna bagi para mahasiswa yang sudah atau ingin membuka usaha sendiri. Selamat berkarya! (IHW)
Jumat, 19 Januari 2018
Beberapa ide bisnis untuk mahasiswa modal kecil
Yuk .... kita lihat beberapa ide bagus dari beberapa teman-teman mahasiswa di luar negeri. Saya rasa cukup bagus juga idenya dan bisa diterapkan di Indonesia. Semoga berguna video nya (IHW)
(Source: Youtube)
Rabu, 17 Januari 2018
Entrepreneurship
Saya tertarik untuk membuat blog ini, karena sebagai dosen yang mengajarkan tentang entrepreneurship, banyak mahasiswa saya yang menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan subject yang satu ini.
Entrepreneurship dan Entrepreneur adalah 2 hal yang berbeda
Entrepreneurship merujuk kepada kemampuan untuk memproses suatu ide atau innovasi baru yang dapat berdampak pada lingkungan secara positip.
Entrepreneur adalah orang yang memiliki ide dan berinnovasi untuk menghasilkan sesuatu yang berharga bagi lingkungannya.
Dari definisi diatas, kita dapat membedakan antara entrepreneurship dengan entrepreneur dengan terlebih jelas. Entrepreneurship lebih kepada suatu proses penciptaan atau innovasi, sedang entrepreneur adalah orang yang melaksanakan innovasi dan menghasilkan barang/jasa yang bermanfaat.
Setiap orang sebetulnya memiliki jiwa entrepreneur, hanya ada orang yang memiliki keyakinan yang kuat dan "tahan banting" dalam mewujudkan impiannya, tetapi banyak juga orang yang tidak siap untuk membayar harga.
Kalau semua orang memiliki jiwa entrepreneur, kenapa tidak semua orang jadi entrepreneur?
Waktu. Dalam berinnovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berguna, diperlukan waktu yang cukup panjang, sampai temuan kita dikenali dan disukai orang. Nah, masa penantian itulah yang terkadang membuat seseorang menjadi tidak sabar.
Risiko. Setiap innovasi baru pasti mengandung risiko, misalnya risiko tidak disukai sehingga tidak laku untuk dijual, dsb. Akibatnya banyak juga orang yang mundur karena tidak mau mengambil risikonya. Sebetulnya risiko dapat di minimumkan asal kita tahu cara melakukannya.
Uang. Ini yang paling banyak dijadikan alasan kenapa orang tidak mau menjadi seorang entrepreneur. Padahal untuk berinnovasi sebetulnya tidak perlu tergantung pada jumlah uang yang banyak. Sudah tentu hal ini tergantung pada jenis innovasinya, tetapi sebagai pemula seorang mahasiswa bisa saja mencoba berinnovasi pada hal yang sederhana dulu, biasanya yang sederhana tidak membutuhkan banyak biaya.
Komunitas. Komunitas juga sangat berpengaruh pada jiwa entrepreneurship seorang mahasiswa. Ada komunitas yang mendukung entrepreneurship tetapi ada juga komunitas yang tampaknya kurang mendukung pengembangan jiwa entrepreneurship seseorang. Memang masalah ini cukup pelik untuk dipecahkan.
Sekian dulu pembahasan saya tentang entrepreneurship dan entrepreneur, lain kali kita lanjutkan lagi diskusi kita di blog ini. (IHW)
Entrepreneurship dan Entrepreneur adalah 2 hal yang berbeda
Entrepreneurship merujuk kepada kemampuan untuk memproses suatu ide atau innovasi baru yang dapat berdampak pada lingkungan secara positip.
Entrepreneur adalah orang yang memiliki ide dan berinnovasi untuk menghasilkan sesuatu yang berharga bagi lingkungannya.
Dari definisi diatas, kita dapat membedakan antara entrepreneurship dengan entrepreneur dengan terlebih jelas. Entrepreneurship lebih kepada suatu proses penciptaan atau innovasi, sedang entrepreneur adalah orang yang melaksanakan innovasi dan menghasilkan barang/jasa yang bermanfaat.
Setiap orang sebetulnya memiliki jiwa entrepreneur, hanya ada orang yang memiliki keyakinan yang kuat dan "tahan banting" dalam mewujudkan impiannya, tetapi banyak juga orang yang tidak siap untuk membayar harga.
Kalau semua orang memiliki jiwa entrepreneur, kenapa tidak semua orang jadi entrepreneur?
Waktu. Dalam berinnovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berguna, diperlukan waktu yang cukup panjang, sampai temuan kita dikenali dan disukai orang. Nah, masa penantian itulah yang terkadang membuat seseorang menjadi tidak sabar.
Risiko. Setiap innovasi baru pasti mengandung risiko, misalnya risiko tidak disukai sehingga tidak laku untuk dijual, dsb. Akibatnya banyak juga orang yang mundur karena tidak mau mengambil risikonya. Sebetulnya risiko dapat di minimumkan asal kita tahu cara melakukannya.
Uang. Ini yang paling banyak dijadikan alasan kenapa orang tidak mau menjadi seorang entrepreneur. Padahal untuk berinnovasi sebetulnya tidak perlu tergantung pada jumlah uang yang banyak. Sudah tentu hal ini tergantung pada jenis innovasinya, tetapi sebagai pemula seorang mahasiswa bisa saja mencoba berinnovasi pada hal yang sederhana dulu, biasanya yang sederhana tidak membutuhkan banyak biaya.
Komunitas. Komunitas juga sangat berpengaruh pada jiwa entrepreneurship seorang mahasiswa. Ada komunitas yang mendukung entrepreneurship tetapi ada juga komunitas yang tampaknya kurang mendukung pengembangan jiwa entrepreneurship seseorang. Memang masalah ini cukup pelik untuk dipecahkan.
Sekian dulu pembahasan saya tentang entrepreneurship dan entrepreneur, lain kali kita lanjutkan lagi diskusi kita di blog ini. (IHW)
Langganan:
Postingan (Atom)



